Media | Berita | Penerbitan

Wednesday, 5 February 2014

"Semoga Opera Batak tetap ada kalau PLOt tak ada suatu saat"

Eksistensi Opera Batak Melalui PLOt

Oleh: Thompson Hs
Pusat Latihan Opera Batak yang disingkat dengan PLOt adalah lembagaresmi yang bergerak untuk melanjutkan Program Revitalisasi Opera Batak

https://www.facebook.com/

PLOt mulai beroperasi di Pematangsiantar sejak September 2005 dan bertujuan untuk memberikan fasilitas pelatihan dan produksi kepada para pemain terdahulu Opera Batak serta generasi baru yang berminat, di samping pembangunan model keorganisasian untuk kemungkinan pengelolaan seni pertunjukan terkait Opera Batak.


Oleh karena itu PLOt pada awal operasionalnya mengadakan sekretariat dengan menyewa tempat di Jalan Lingga No 1 Siantar sampai 2011 dan dipertahankan mengontrak rumah di Jalan Kabanjahe No 21 BLK sejak akhir 2011.


Pengelolaan dan keberlangsungan sekretariat ini dipikirkan secara organisatoris tanpa memberatkatkan tim kerja yang ada. Adapun tim kerja PLOt terdiri dari 8 orang dan 2 di antaranya berada di luar negeri dan menjadi penyandang biaya sekretariat sampai setahun. Enam orang lainya dari tim kerja cenderung untuk pelaksanaan kegiatan, di samping dua orang memperhatikan operasional di sekretariat sampai tahun 2008.


Tahun 2009 sekretariat PLOt diharapkan agar berada di Medan mengingat ada tiga orang tim kerja tinggal dan bekerja di Medan serta dua tim kerja di Siantar "melarikan diri."


Sehingga dengan harapan sekretarit PLOt di Medan rumah di sekitar Perumnas Mandala sudah sempat dipersiapkan dan kemudian mendorong upaya sebuah tempat khusus untuk pusat latihan di Balige.


Tempat untuk pelatihan itu juga tidak lama ada setelah melobi Dr. Ir. Bisuk Siahaan yang bersedia memberikan penggunaan sebuah rumah tua di Kota Balige.


Intinya, PLOt direncanakan tidak harus beroperasional lagi di Kota Siantar. Tapi tempat sekretariat baru di Medan dan tempat pelatihan di Balige akhirnya tidak bisa dimanfaatkan karena sumber daya manusia untuk pelaku pada kedua tempat nampaknya masih tergantung kepada pelaku di sekretariat Siantar, ditambah jaminan dan dukungan operasional dalam berorganisasi.


Nampaknya PLOt belum mampu membangun model keorganisasiannya tanpa mengutamakan konsentrasi pada berbagi kegiatan pelatihan dan produksi. Itulah juga salah satu alasan kenapa sekretariat kedua harus diadakan lagi di Siantar, di samping sokongan baru dari tim kerja yang berada di luar negeri.


Sampai saat ini PLOt dikenal karena kegiatannya, terutama dengan beberapa produksi pertunjukan terakhir yang tidak tergantung kepada cerita-cerita lakon Opera Batak terdahulu. Secara keorganisasian juga PLOt memiliki pangkalan data di sekretariatnya untuk menjelaskan eksistensinya terkait kelanjutan program revitalisasi. Pangkalan data di sekretariat dan produksi pertunjukan sudah dapat pula dimanfaatkan berbagai pribadi yang terlibat dalam kegiatan PLOt. Pemanfaatan itu berguna untuk menjelaskan kehadiran PLOt dan memicu perhatian ulang berbagai jaringan yang sudah ada selama ini.


Jaringan-jaringan awal PLOt adalah Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta, pemerintah lokal, lembaga luar negeri, dan para penyumbang pribadi. setiap kegiatan PLOt boleh dikatakan menarik perhatian publik dan media. Khususnya perhatian media sebuah brosur PLOt pernah menggunakan anotasi pemberitaan dari awal operasional sampai tahun 2010.


Anotasi tersebut dilakukan berdasarkan hasil kerja pembuatan klipping di sekretariat dan sumber-sumber ekspose lainya. Dari luar sekretariat pangkalan data berupa foto-foto, video, poster, dan lain-lain yang kemudian dapat disimpan dan dapat dibukukan manfaatnya kepada kepentingan penelitian yang dimanfaatkan sejumlah kalangan kampus, televisi, dan pembuat filem.


Sejumlah buku di sekretariat juga dapat dimanfaatkan, selain properti yang dihasilkan sejak revitalisasi Opera Batak di Tarutung tahun 2002. Pemanfaatan tanpa prosudur ketat menunjukkan PLOt terbuka secara organisasi dan berjuang mendukung perkembangan tim kerjanya dan para penggembira pada bidang-bidang dan minat tertentu.


Dukungan PLOt untuk pengembangan kapasitas tim kerja dan penggembiranya adalah melobi jaringan dengan kunjungan langsung, via surat, nia telepon, dan bantuan langsung keuangan secukupnya.


Bentuk dukungan itu contohnya untuk pelatihan-pelatihan, studi lanjut akademik, mata kuliah spesifik Opera Batak di kampus, dan sosial. Tujuan semua bentuk dukungan ini merupakan cara kerja yang diharapkan memberikan citra keorganisaan PLOt, meskipun masih belum menetapkan modelnya.


Tahun 2008 PLOt mendaftarkan keorganisasiannya di Siantar karena urgensi dana Seminar dan Pelatihan Opera Batak. Urgensi terkait dengan prasyarat pencairan dana yang diberikan oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. PLOt terdaftar di Kantor Notaris Masta Damanik dalam bentuk perhimpunan.


Karena tim kerja dari luar negeri tidak memungkinkan hadir dalam proses pendaftaran itu, maka secara formal dicatat lima (5) orang pendiri PLOt, di antaranya melalui nama Thompson Hs, M. Suwarsono, Imelda Manurung, Bono Sitompul, dan Ganda Horas Hutahaean. Di luar nama-nama tersebut dibayangkan tetap masih menjadi tim kerja sampai anggaran rumah tangga dapat diperbuat.


Namun sampai saat ini anggaran rumah tangga PLOt tidak mungkin dapat dirumuskan tanpa potensi sumber daya manusia yang paham dan sadar dengan sebuah organisasi. Pendiri juga dapat dikatakan tidak harus manusia organisatoris, kecuali dengan proses pembelajaran khusus yang dapat dilakukan siapa saja kalau sebuah organisasi dianggap bermanfaat di samping mengambil manfaat dari setiap kegiatan.


Hal berorganisasi dan berkegiatan inilah yang masih belum bertemu dalam eksistensi PLOt dalam perkembangannya. Sampai PLOt dapat melaksanakan pertunjukan ke Jerman pada November 2013 lalu kelihatannya itu belum dianggap sebagai bagian dari jejak organisasi karena dalam setiap kegiatan PLOt manfaat keorganisasiannya masih harus tarik-menarik dengan kepentingan dan manfaat-manfaat lainnya dalam berkegiatan.


Semoga Opera Batak tetap ada kalau PLOt tak ada suatu saat. Hidup Opera Batak di mana-mana!

https://www.facebook.com/



Medan, 1 Februari 2014
Tulisan ini dilansir dari SKM MATA RAKYAT, terbitan edisi 3 - 10 Februari 2014.

0 komentar:

Post a Comment