Media | Berita | Penerbitan

Tuesday, 16 September 2014

Untuk Tintin, Sahabat Teman Aku

Semua insan manusia pasti memiliki pemikiran, penilaian, dan pemahaman sendiri terhadap apa yang dilihat, didengar. Itulah namanya naluri berpikir.





Adalah Tintin, sahabat teman aku yang mengatakan dalam blog pribadinya bahwa saya berpikir seperti kekanak-kanakan. Sah-sah saja memang jikalau Titin hanya berpikir dan memberi penilaian kepada saya melalui apa yang dilihat dan didengar dari sahabatnya, yaitu teman saya.

Dalam postingan blog pada tanggal, 31 Agustus, 2014. Itu berceritakan perjalanan kisah hubungan sahabat Tintin dengan empat orang sahabatnya dan salah satu dari empat orang itu adalah teman aku.

Saya kagum melihat lalu membaca kata demi kata yang dirangkai oleh Titin, bisa dikatakan saya menyukainya. Hanya, ada kalimat tak sesuai dengan apa yang kuanut dalam berpikir, menilai, hingga menimbulkan pemahaman yang berbeda menurutku.

Tintin menuliskan: "tapi selidik punya selidik ternyata menurutku."

Kalau memang Titin sudah menyelidiki, jangan lagi ada kata "menurutku." Nyatanya saja.

Tintin juga menuliskan: "belum lagi sifat aby yang menurut gue ternyata sangat kekanak2an."

Dan sifat kekanak-kanakan seperti yang ditulis Tintin memang aku--akui ada benarnya. Lagian, siapa pun orang pasti ingin memiliki sesuatu itu harus sepenuhnya tanpa ada yang kurang, tanpa ada yang hilang, karena itu adalah kebahagia tersendiri.

Dan bagaimana pula, aku harus berterima kasih atas tulisan blog itu. Setidaknya, aku tahu bahwa orang itu memikirkan sahabat teman aku. Dan aku menyukai itu. Salam sama si Natal--mu.

0 komentar:

Post a Comment