Media | Berita | Penerbitan

Saturday, 21 June 2014

Para Jurnalis "Sampah"

Para jurnalis--yang bermarkas, berpayung dan dibesarkan oleh media yang sudah tua/mapan--dan sangat disegani pola kerja timnya, akhirnya "tersungkur" dan terjerembab ke lembah kenistaan. Kehilangan jatidiri "keindpendenan" karena menjelmah menjadi "budak pemodal". Mereka sudah tidak lagi berpegang pada kaidah-kaidah jurnalistik, sudah tidak lagi menghormati undang-undang, sudah tidak lagi berjalan pada kode etik jurnalistik. 



Para jurnalis "sampah" itu, telah menggoreskan tinta hitam pada wajah "persuratkabaran" di negeri ini. Mereka sudah melupakan fungsi mencerdaskan, fungsi edukasi dan hiburan (entertainer). Mereka telah menjelmahkan diri sebagai "predator", "pemangsa", dan menjadi "kanibal" yang menghalalkan apapun untuk mendapatkan sesuatu atau untuk mencapai satu tujuan yang menyesatkan.

Para jurnalis "sampah" itu, mata hatinya sudah menghitam dan langkahnya sudah kehilangan arah. Menebar fitnah dan informasi tidak benar.

Aneh rasanya, kalau para jurnalis "sampah" itu, tidak tersentuh hukum, tidak terjamah undang-undang pokok pers, dan tidak terperangkap kode etik jurnalistik.

Siapa mempermalukan siapa. Siapa harus menghormati siapa. Apakabar para jurnalis "alur lurus"?
 

Oleh:  ingot simangunsong 
Pematangsiantar, 18 Juni 2014

0 komentar:

Post a Comment