Ketika semua ini berakhir, takkan ada lagi surat untuk Nat, takkan ada lagi sebutan Nat, dan juga takkan ada lagi panggilan manja Pudanku. Itukah yang aku dan kamu inginkan dari hubungan ini? Tapi, aku tak mengharapkan itu terjadi.
Mungkin, Engkau jenuh setiap tingkah-laku dalam diriku, yang selalu berujung pertengkaran. Namun entah bagaimana itu semua terjadi, tapi kenapa tak sedikit pun penjelasan darimu tak terbuka? Aku terlalu memaksa atau gelisahkulah yang omong kosong? Tapi aku berharap semua tidak benar.
Sejauh ini, selalu saja aku berada dalam lingkaran kegelisaan, dan entah sampai dimana, kapan ini berakhir. Inginku untukmu Nat, saat engkau berada diatas pendirianmu, pilihlah mana yang lebih baik untuk kehidupan esok dan jangan berikan sebuah kebohongan kepada seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu.
Nat, fokuslah dulu terhadap kegiatan saat ini, aku hanya akan menunggu kabar tentang kebahagian dirimu. Aku juga berusaha menghapus dan melenyapkan semua rasa sakit yang menempel ditubuh ini.
Dari postinganmu. Aku cuma bisa menyimpulkan kalo secara tersirat, kamu menginginkan berpisah dengan si "Nat" itu. Benarkah? Semoga aku salah :'(
ReplyDeleteTapi aku berharap semua tidak benar.
DeleteAku harap ini cuma tulisan yang kamu postingkan untuk menambah kreativitas saja. Kalaulah boleh janganlah sampai terjadi dalam kenyataan. Karena sesungguhnya si "Nat" tidak pernah menginginkan itu terjadi.
DeleteAku, Nat, dan bahkan semua manusia tidak tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi dalam kenyataan masa depan. Hanya menentukan langkah mana harus dilewati menuju pengharapan sebuah kata BAHAGIA.
DeleteDan dalam tulisan "Surat Untuk Nat (Bagian 2)" ini adalah karya nyata yang aku posting, hidup adalah cerita dan inilah ceritaku yang sudah berlalu untuk aku ingat.
Aku tau, semua orang berhak untuk berharap yang terbaik untuk kebahagiaannya kelak.
DeleteDan dalam kalimat "pilihlah mana yang lebih baik untuk kehidupan esok "
misalkanlah si "Nat" menjatuhkan pilihannya padamu. Apa yang menjadi tanggapanmu?