Media | Berita | Penerbitan

Friday, 20 March 2015

"Niat Ada, Tergantung Yang Diatas"

OLEH ABIDAN SIMBOLON (Ka. Biro Samosir)

BERBAGAI kritikan diterima dari dalam dan luar pemerintahan. Namun semua itu selalu direspon baik oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Samosir Ir. Hatorangan Simarmata.

Ir. Hatorangan Simarmata, di ruang kerjanya. Foto oleh Abidan Simbolon

 
Kesibukan Ir. Hatorangan Simarmata sebagai aparatur pemerintah terlihat saat wartawan Harian Reportase Abidan Simbolon ditemani Chandra Hutajulu dari Koran Minar bertamu ke ruangan Sekda Kabupaten Samosir itu, sedang memeriksa beberapa berkas yang tergeletak di meja kerjanya.

Koran ini mewawancari selama 2 (dua) jam mengenai profil dan perjalanan karir pria dengan nama baptis lengkap: Hatorangan Dapentua Simarmata, pada hari Kamis, 12 Maret 2014, di lantai 2 (dua) Kantor Bupati, Jalan Raya Rianiate, Km 5,5.

"Dapen," ujar Sekda menirukan ayahnya menyebut namanya semasa kecil. Anak paling bungsu dari 7 (tujuh) bersaudara itu terlahir dari keluarga yang sudah memasuki ranah pemerintahan pada jaman Belanda masih di Indonesia. Keseharian ayah Hatorangan sebagai  Raja Bius (tokoh adat) dan juga menjabat Ketua Dewan Pemerintahan untuk 8 (delapan) kepala kampung di Kenegerian Simarmata.

Raja Bius menjadi salah satu warisan yang diteruskan oleh Dapentua–panggilan dari orangtunya. Pria kelahiran 22 Juni 1957, itu menjadi penerus keturunan adat-istiadat keluarga yang tinggal di kampung.

Mempersunting Boru Silitonga
Ir. Hatorangan Simarmata mempersunting Rohani Silitonga dan dikaruniai 1 (satu) anak perempuan dan 2 (dua) anak laki-laki.

Hatorangan menuturkan sedikit kisahnya menemukan Rohani Silitonga yang dulu bekerja sebagai tenaga pendidik yang ditempatkan di Simarmata.

"Adong na paimahon," kata Hatorangan dengan tertawa mengingat pendamping hidupnya itu ternyata di Simarmata juga.

Karir
Ir. Hatorangan Simarmata menjabat sebagai Sekdakab Samosir mulai tahun 2011 hingga kini, beliau bercerita tentang perjalanan karir yang dimulai setelah lulus dari Fakultas Pertanian tahun 1977 di Universitas Sumatera Utara (USU) dan melamar kerja di Departemen Transmigrasi (Deptrans) di Jakarta. Deptrans menempatkannya di Ambon, Provinsi Maluku.

Pengalaman hidup dialami oleh Ir. Hatorangan selama bekerja di Ambon, salah satu pedoman kerja yang dianutnya dari sebuah buku yang diberikan Chosim–kepala di tempat kerja Hatorangan. Buku berjudul  "Pemuda yang Berkarya" berkisah perjuangan seorang lelaki dari Aceh  yang berjuang 8 km menembus gunung dengan menggali sendirian untuk menyalurkan air ke sebuah desa terpencil di Maluku.

Kisah dalam buku tersebut menjadi panutan yang ditanamkan oleh Ir. Hatorangan Simarmata dalam perjalanan karirnya dan merasa untuk berbuat yang lebih baik.
"Ternyata, kita belum seberapa dengan perjuangan untuk Indonesia," Ujar Ir. Hatorangan menceritakan kisah tersebut.

Selanjutnya, Ir. Hatorangan meneruskan kisah selama di Ambon. Waktu itu terjadi kerusuhan di Indonesia bagian timur termasuk Ambon, Deptrans mengeluarkan keputusan kepada siapa saja bisa pindah karena situasi Kerusuhan di Ambon.

Ir. Hatorangan pindah dari Ambon ke Sumatera Utara dan ditempatkan di Dinas Kehutanan Kabupaten Toba Samosir.

Setelah Kabupaten Samosir pemekaran, Ir. Hatorangan menjabat sebagai Kepala Dinas (Kadis) Pertanian pada tahun 2004, kemudian tahun 2006 jabatannya sebagai Kadis Kehutanan, dan diusulkan oleh DPRD pada tahun 2008 untuk menjabat Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA). Tahun 2011, Ir. Hatorangan dipercayai Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon untuk menjabat sebagai Sekda Kabupaten Samosir.

Dari pengakuan Ir. Hatorangan Simarmata, perjalanan karir atau jabatan yang didapat tidaklah karena permintaan ataupun menyuap atasan. Bahkan, Hatorangan tidak tahu namanya direkomendasikan untuk menjabat jabatan seperti Kepala Bappeda.

"Bupati Samosir memberitahu kalau saya diusulkan oleh DPRD sebagai Kepala Bappeda," Ujar Hatorangan.

Di usia 58 tahun tak terlihat lelah pada raut muka Ir. Hatorangan Simarmata melaksanakan tugas pemerintahan sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Samosir. Alumni SMP N II Pangururan itu akan menginjak masa pensiun pada 1 Juli 2015 mendatang.

"Semua tergantung pimpinan, kalau masih dipercayai," ujar Ir. Hatorangan ketika ditanya Reportase tentang masa pensiun beliau.

Disinggung tentang keikutsertaannya meramaikan pesta demokrasi sebagai calon Bupati pada tahun 2015, beliau dengan penuh kerendahan hati dan tegas mengatakan "Niat ada, tergantung Yang Diatas." ucap Ir. Hatorangan Simarmata.

Sumber: Harian Reportase

Friday, 13 March 2015

Perjalan Hidup Natalina

[FIKSI] NATALINA, perempuan berbadan tegap dengan rambut sebahu, mengenakan seragam sekolah putih abu-abu dengan semangatnya memangkul tanpi--penganan terbuat dari bambu, berisikan kue basah tradisional olahan Ibunya--Surningsi, untuk dijajalkan sewaktu jam istirahat di Sekolah Menengah Atas (SMA), tempat dia menuntut ilmu.
 
Setiap hari Natalina berjualan kue tradisional disaat jam istirahat, semua itu harus dilakukan untuk memenuhi keperluan sekolahnya dan juga adiknya--Andre, yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Ibunya, juga bejualan kue tradisional dengan berjalan kaki di kota untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Rumah tempat Natalia termasuk hunian tak layak, ukuranya 2meter X 4meter dengan dinding berpapankan seng bekas berkarat, atapnya terbuat dari empat drum aspal yang sudah dilebarkan. Untuk menutupi dinding yang karatan itu, Natalina mengunakan kardus bekas yang dipungut dari tong sampah di depan rumah warga sewaktu melintas hendak pulang sekolah.

Di rumah kecil itulah, Natalina, Andre, dan Ibunya, Surningsi, menjalani hidup tanpa kepala rumah tangga, yaitu seorang ayah bagi Natalina dan Andre, juga sebagai suami untuk Surningsi.

Kepahitan hidup, mereka alami berawal ketika ayah Natalina menikah lagi dan menceraikan Surningsi hingga mengusirnya dari rumah mereka. Natalina dan Andre memilih untuk ikut bersama Ibunya.

Ibu Natalina adalah keturunan Jawa, datang ke kota Medan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tak satu pun sanak saudaranya tinggal di kota itu. Surningsi berkenalan dengan pria yang menjadi suami dan menjadi ayah bagi Natalina dan Andre.

Waktu itu, Selasa, 10 tahun silam, Natalina, Andre, dan ibunya Surningsi diusir dengan keji. Malam hari akan segera tiba, tak ada yang bisa mereka perbuat, sekedar untuk menyewa sebuah ruang lesehan pun tidak bisa.

Malam itupun tiba, hitam gelap ditemani remangnya lampu jalan yang sudah usang, mereka berhenti disebuah teras rumah yang megah dalam tahap pembangunan. Mereka tidur di teras rumah megah itu, sunyi, dan dingin menggigit kulit.

"Kenapa Bapak mengusir kita Bu?" Ujar Andre kepada Ibunya sambil menangis.
Surningsi mendekap Andre dengan erat, air matanya menetes hingga terjatuh di kening Natalina yang juga saat itu menangis dengan anggukan kecil.

Larut mulai terasa, Surningsi memperhatikan kedua buah hatinya sudah terlelap walau tanpa selimut, Surningsi membuka tas hadang yang dibawanya dari rumah, lalu mengambil kain sarung untuk dilebarkannya ke kedua anaknya itu.

Dalam hati, Surningsi mengutuk kelakuan suaminya itu agar menerima azab yang setimpal. Entah karena bencinya terhadap suaminya atau memikirkan jeratan hidup yang dijalani oleh Surningsi, matanya tertutup dan tertidur dengan air mata di pipi.

"Tok, tok, tok," bunyi itu terdengar oleh Surningsi, dilihatnya ada bayangan manusia di depan persis di halaman bangunan itu. Surningsi terbangun sadar dan dilihat dengan jelas bahwa itu tukang yang merenovasi rumah megah itu sedang menancapkan paku ke papan dengan palu

"Maaf Bu, kami mau bekerja, tolong Ibu bangunkan anak-anaknya, di sana ada tempat untuk berteduh." Kata lelaki hitam pakai topi, pekerja rumah itu, sambil menunjuk sebuah gubuk.

"Nat, Andre, bangun Nak." Ujar Surningsi membangunkan kedua buah hatinya. Lalu mereka meninggalkan rumah megah itu menuju tempat yang ditunjuk oleh kuli bangunan pada Surningsi.

Sampailah Surningsih bersama anak-anaknya di tempat berteduh yang disebutkan kuli bangunan itu, tempat dengan ukuran 2meter X 4meter menempel di tiang tonggak listrik, rumput ilalang tumbuh mengelilingi bangunan kecil itu.

Dari situlah awal kehidupan keluarga Surningsi, menjalani hari-harinya hingga bisa melanjutkan sekolah kedua anaknya.

Lingkungan sekitar tempat tinggal Surningsi pun bisa menerima kehadiran mereka, warga berdatangan memberi perlengkapan, juga mendukung dan memberi uang agar Surningsi membuat kue tradisional untuk dijual.

Natalina pun ikut membantu Ibunya untuk menjual kue. Gadis putih nan elok dipandang mata lelaki itu, tidak malu menjajalkan kue saat jam istirahat sekolah, para guru di sekolah memuji kemauan tekad Natalina.

Banyak yang menggoda Natalina saat menjual kue, apalagi kakak kelasnya selalu suka merayunya saat membeli kue, begitu juga guru biologi di sekolahnya itu.

Setiap hari di sekolah, guru biologinya membeli kue dari Natalina, kadang Natalina disuruh masuk ke ruangannya dan merayunya. Tulisan ini bukan mengarah Vulgar, mari coba kita bayangkan, Natalina sosok wanita yang membuat lelaki menelan ludah, bahenol. Bisa dikatakan Natalina perempuan yang mampu menaikkan birahi.

Jailnya lelaki kepada Natalina sudah biasa, Natalina tak memperdulikan semua itu, kecuali guru biologinya itu. Saking sering membeli kue dengan membayar tapi tidak menerima uang kembaiannya, membuat Natalina sungkan kepada gurunya itu.

Natalina pun ternoda oleh kelakuan sang guru, ketika saat membayar kue, guru biologi itu menyusupkan uang bayaran kue langsung ke saku baju SMA yang dikenakan Natalina. Hingga sekitar satu menit lamanya tangan si guru bertahan. Natalina tidak bisa bicara, wajahnya memerah, lalu guru itu mencabut tangannya dari saku Natalina yang tepat di daerah dada.

Sentuhan guru biologi itu adalah sentuhan lelaki yang dirasakan Natalina, kejadian itu semakin sering terulang dialami, bahkan kelakuan sang guru tidak lagi sebatas sentuhan. Ciuman dan pelukan pun sudah dirasakan oleh Natalina dari gurunya itu.Kelakuan itu pun berlanjut dilakukan.

Natalina pun akan memasuki Ujian Nasional, metode belajar pun ditingkatkan di sekolah itu dengan menambahkan les sore. Waktu itu, jam les sore sudah selesai dan Natalina hendak pulang. Di gerbang sekolah, guru biologi itu menyodorkan tumpangan untuk mengantarkan Natalina pulang ke rumah dan Natalina mengiakannya.

Natalina memasuki mobil Honda Jazz milik gurunya itu, mereka jalan namum bukan arah rumah Natalina.

"Ini bukan arah rumah saya, Pak," ucap Natalina.

"Kita singgah dulu ke rumah saya sebentar." Gurunya menjawab ucapan Natalina.

Sampailah di lokasi perumahan elit, mobil diparkirkan di depan rumah bertingkat bercat putih. Guru biologi itu keluar dari mobil, tapi Natalina masih tetap di dalam.

Guru itu berjalan mendekati pintu mobil sebelah kiri lalu membuka dari luar dan berkata, "silahkan turun tuan Putri, kita sudah sampai di istanaku."

"Pak, saya tunggu di mobil saja, nanti dilihat orang," ucap Natalina.

"Aku ingin memberikan sesuatu untukmu," ujar guru biologi.

Natalina pun menurut kepada guru itu dan mereka berjalan menuju pintu depan rumah megah bertingkat itu.

Mereka sudah di dalam rumah, guru Natalina itu menutup pintu dan secara mendadak memeluk Natalina dari belakang. Natalina terkejut, namun tak merontah.

Natalina dipapa ke arah kamar di ruang tengah rumah itu dan membaringkannya di atas tempat tidur yang empuk.

"Natalina, maukah engkau menikah denganku?" Ujar si guru.

"Bapak ngomong apa? Aku kan masih anak SMA?" Ucap Natalina.

"Aku sudah meniatkan dirimu untuk pendamping hidupku, maukah engkau hidup bersamaku?" tanya gurunya.

"Bagaimana dengan status aku masih sekolah? Lagian, apa Bapak, mau menerima keadaan keluargaku?" Natalina kembali bertanya.

"Aku sudah tahu keadaan keluargamu, bukan karena aku kasihan kepadamu. Tetapi ada rasa ingin memilikimu." kata guru itu kepada Natalina.

Natalina menjawab. "Aku bersedia, Pak. Tapi ....."

"Tapi apa?" gerutuh guru itu.

"Bagaimana caranya kita bersatu? Aku anak sekolah? Apakah aku harus putus sekolah?" ujar Natalina.

Tiba-tiba sang guru memegang dan meletakkan telapak tangan kanan Natalina tepat di atas kepala si guru dan berkata.

"Aku berjanji, seusai engkau lulus sekolah, kita akan menikah. Sebagai tanda keseriusan diriku untuk mempersuntingmu, mulai besok aku, kamu, dan keluargamu akan tinggal di rumah ini." kata guru itu dengan sungguh-sungguh.

"Aku menyayangi, Bapak." ucap Natalina disertai tangis bahagia.

Guru itu pun mencium kening Natalina, lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang yang dibarengi gairah. Dan tak terasa, adegan suami istri pun mereka lakukan.

Tidak terasa, malam mulai hadir. Mereka bergegas ke rumah Natalina. Sesampai di rumah, Surningsi, Ibunya Natalina menanyakan putri pertamanya itu.

"Darimana saja kamu, Nat? Pulang sampai malam begini." Tanya Surningsi.

"Maaf, Bu." Jawab guru itu.

"Ehhh, Adek ini siapa? Kok bisa bareng Natalina?" Tanya Surningsi pada Guru itu.

"Namaku Edo, aku guru biologi disekolah Natalina." Jawab guru Natalina yang bernama Edo itu.

"Guru? Ada masalah apa disekolah?" tanya Surningsi dengan kaget.

"Ia Bu, saya guru. Tidak ada masalah kok, aku datang ke sini untuk menyatakan melamar Natalia sebagai pendamping hidupku. Aku ingin menikahi dengan putri, Ibu." Tegas Edo.

Edo melanjutkan perkataannya, "Aku ingin keluarga Ibu tinggal di rumah Edo." ujar Edo pada ibu Natalina.

Setelah saling memberi penjelasan. Edo, Surningsi, dan Natalina sepakat antara Edo dan Natalina menikah setelah tamat SMA. Keesok harinya, keluarga Surningsi pindah ke rumah megah Edo dan disambut hangat kedua orang tua Edo.

Setelah bersapa ria antara keluarga Edo dengan keluarga Natalia, Surningsi baru mengetahui bahwa Edo adalah anak satu-satunya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan Natalina pun lulus sekolah. Dan benar saja apa yang dijanjikan oleh Edo, mereka menikah, kebahagian itu pun dirasakan kedua keluarga itu.

 =====
å Penulis fiksi ini adalah pengelolah halaman facebook Unshakable Team.

Sunday, 25 January 2015

Unshakable Team

Unshakable Team adalah biro jasa yang melayani dibagian pemasaran, periklanan, dan termasuk buruh kasar. Bisa juga di akses melalui halaman Facebook.com.

Wednesday, 19 November 2014

Dia Adalah Sang Pacar Dulu

Dia sudah jauh, pergi ke tanah Melayu untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Wajahnya tak terlupa oleh karena hiasan bintik-bintik jerawat nan indah dipandang mata, berpadu rambut keriting sebagai mahkota perempuan. Perlakuannya sangat manja, centil, dan suka memperlihatkan tatapan mata yang tajam, namun Dia seorang perempuan lembut. Dia adalah sang pacar dulu.
 

Dulu sewaktu di kota ini, kesehariannya bekerja disebuah kantor yang mendengar keterangan saksi, mempertimbangkan, dan menjatuhi hukuman. Hampir setiap hari kerja, Dia, selalu menghiasi tatapan mata jika bertandang ke kantor itu.

Jalinan kasih terurai dalam sebuah hubungan, namun apa mau dikata, cinta itu tak selalu setia. Tulisan ini bukan untuk memberitahu lakon seutuhnya dan juga bukan memperburuk tingkah lakunya, tapi Dia, menginginkan ini hadir di halaman abidansimbolon.blogspot.com.

Jalinan kasih itu dibumbui dengan cinta segitiga, memiliki idaman lelaki selain saya (admin), itu terbukti setelah pengakuan seorang. mengetahui itu, tak banyak yang bisa diperbuat, hanya berserah melepas perempuan yang berjerawat itu tanpa sebuah kata akhir untuk hubungan itu.

Perjalanan ke Salib Kasih, Tarutung, waktu itulah terakhir kali untuk melepasnya ke lelaki idamannya. Di salah satu ruangan doa seraya memohon agar Dia, bahagia bersama lelaki yang hadir dalam persegitigaan cinta.

Setelah itu, layaknya seorang sahabat, berbicara sewajar-wajarnya, dan berpapasan dengan senyum. Hanya itu terlakukan saat tersebut.

Roda perjalanan hidup selalu berputar, Dia berniat untuk menuntut impian yaitu: pendidikan dengan sebutan mahasiswa dan itu tercapai. Perempuan dengan penuh semangat ini begitu hebat, Dia besar di sebuah desa di Batu Nadua, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara.

Keinginan Dia, pun terpenuhi oleh waktu, di tanah Melayu, Dia punya tiket emas untuk cita dan harapan. Dia pamitan dan meminta untuk bersama beberapa hari sebelum keberangkatan itu, namun itu tak terasa oleh karena disibukkan rutinitas.

Beberapa bulan yang lalu, Dia datang ke kota ini, tak banyak perbedaan dalam wajahnya, masih membuat terpesona oleh bintik jerawat. Duduk bersama, tawanya mengakak-ngakak, dan pelukan rasa rindu pun terjadi.

Dalam pikiran berkata: ketika berbicara hati, hal utama adalah kejujuran. Dan itu pun terlakukan dengan sebenarnya. Status diri pun diketahu olehnya, yang walau pun harapan bersama masih didambakan.

Tuhan punya rencana, jodok tak diketahui oleh siapa pun. Mari berpikir untuk kemapanan hidup. Semua, indah pada waktunya.

Friday, 7 November 2014

Aksi Solidaritas Wartawan di Kabupaten Samosir

Di Kabupaten Tapanuli Tengah, belum lama ini terjadi kekerasan yang dilakukan oleh staf Kementerian Agama (Kemenag)  kepada Jason Gultom, wartawan salah satu media terbitan Sumatera Utara.

Terkait kejadian itu, solidaritas  wartawan di Kabupaten Samosir, tergerak untuk melakukan aksi dengan mendatangi Kantor Kemenag setempat pada hari Rabu, 22 Oktober 2014. Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Samosir Folulu Firmantus Laila, menyambut kedatangan para wartawan yang bertugas di Kabupaten Samosir, baik cetak maupun elektronik.

Hotdon Naibaho, awak media harian mengatakan bahwa aksi itu sebagai bentuk keprihatinan atas banyaknya kasus kekerasan yang dialami wartawan saat meliput.

‘’Kegiatan ini sebagai dukungan kepada rekan sesama wartawan yang mengalami kekerasan saat menjalankan tugas dan tentunya aksi solidaritas ini untuk meminta penjelasan dari  pihak Kementerian Agama atas aksi kekerasan yang dilakukan salah satu pegawai Kemenag Tapteng,’’ ujar Hotdon.

Marihot Simbolon, yang juga awak media mengatakan, di saat seperti ini aksi kekerasan tidak seharusnya terjadi lagi. Sebab, bila tidak sesuai dengan  isi berita  dengan hasil wawancara , sesuai undang-undang pers nomor 40 Tahun 1999 yang dirugikan atas pemberitaan tersebut  dapat menyampaikan hak jawab. Bukan malah melakukan aksi ‘’Koboy’’, tegas Marihot.

Kehadiran wartawan di Kantor Depag Kabupaten Samosir membuat terkejut Kakan Depag Folulu Firmantus Laia, bahkan Foulu tidak mengetahui aksi kekerasan oleh staf Depag Kabupaten Tapanuli Tengah kepada wartawan di tempat itu. Foulu, secara pribadi dan Kakan Depag Samosir, mengatakan cukup prihatin atas peristiwa ini. Seharusnya pegawai Kementerian Agama itu tampil sebagai teladan diantara aparatur pemerintah lainya.

Tanpa kehadiran wartawan, lanjutnya, maka masyarakat tidak mengetahui apa yang terjadi dibelahan dunia ini. Untuk itu, Faulu minta supaya Kemenag dan Kanwil Depag Sumut dapat memberikan sanksi tegas kepada pelaku. Karena  tindakan yang dilakukan telah mencoreng jajaran Kemenag, tutupnya.
Setelah mendengar penjelasan Kakan Depag Samosir, wartawan yang melakukan aksi solidaritas meninggalkan kantor Depag. (Abidan Simbolon)

Sumber: Harian Reportase

Saturday, 1 November 2014

Batak Opera Night di Kabupaten Samosir

"Mencari Si Jonaha," karya Thompson Hs, bersama Pusat Latihan Opera Batak (PLOt), akan tampil dalam Batak Opera Night, pada even Horas Samosir Fiesta 2014, pada tanggal 28 Oktober, 2014 di Open Stage Pangururan, Kabupaten Samosir.

Siswanto Sinambela, di ruang kerjanya.

 
Berkisah tentang kehidupan seorang pria yang berakhir secara tragis oleh karena gemar menipu dengan memanfaatkan keluguan orang lain, hanya senang tanpa memandang bulu, teman, paman, ibu angkat, hingga istrinya menjadi korban.
"Surprise, ini ada cerita yang dibuat oleh PLOt sendiri, bukan opera yang dulu-dulu. Salah satu yang akan kita tampilkan ini baru pertama sekali dimunculkan oleh PLOt," ujar Siswanto Sinambela, di ruang kerjanya.
Dalam konsep Horas Samosir Fiesta 2014, Kabupaten Samosir dalam mempromosikan wisata, kegiatan ini menjadi corong. Kita sediakan hiburan di tempat kita, kita fasilitasi pemain hiburan itu, sehingga orang datang menginap untuk menyaksikan hiburan malam disini. Tutup Siswanto.
Selain event itu, Dinas Pariwisatra, Seni, dan Budaya Kabupaten Samosir, dengan kerja sama pihak Event Organizer juga akan mempersembahkan kehadiran artis Retha Sitorus, dan lomba kuliner dari 9 Kecamatan, yang bertujuan untuk membangkitkan kuliner. (Abidan Simbolon)

Sumber: Harian Reportase


Sunday, 19 October 2014

Jarak Antara Mentari, Dengan Aku

Baru aku mengerti, betapa jauhnya jarak Mentari untuk aku gapai dalam benak ini. Semua seperti dongeng yang kenyataannya tidak pernah ada, semua ini ibarat mimpi.


Seandainya sosok Mentari bisa aku gapai dan hinggap dalam pelukan, aku merasa adalah manusia yang akan bahagia, bila pun ada bentakan, cacian, itu tak akan aku pedulikan. Bahkan dikatakan bangkai sekalipun terhadap aku pasti aku terima.

Namun aku sadar akan hal itu, semua mustahil dan mungkin tak akan pernah terjadi. Mentari jauh di atas dan jarak terhadap aku melampaui batas normal.

Aku harus banyak lagi berkaca pada diri sendiri, ternyata betapa hina aku hidup di bumi ini. Dan walaupun begitu, rasa syukur selalu aku ucapkan.

Mentari, terima kasih atas adanya engkau bersinar di bumi ini, semua mahluk hidup menginginkan mentari hadir dalam hidupnya.

Keterbatasan dan perbedaan terkadang menjadi sebuah pemisah dan itu aku sadari, karena keinginan tidak selalu harus dimiliki.

Mentari, aku tak ingin berlebihan untuk meminta kepadamu keinginanku, tolong jangan sinari aku dengan sinar kebencian.