Media | Berita | Penerbitan

Tuesday, 24 June 2014

Surat Untuk Nat (Bagian 2)

Hai Nat, gimana kabarmu disana? Apa sudah ada jawaban dari kegelisahan yang selalu aku katakan? Atau mungkin itu hanya buah pikiranku saja? Tuhan-lah yang Maha-tahu.

Ketika semua ini berakhir, takkan ada lagi surat untuk Nat, takkan ada lagi sebutan Nat, dan juga takkan ada lagi panggilan manja Pudanku. Itukah yang aku dan kamu inginkan dari hubungan ini? Tapi, aku tak mengharapkan itu terjadi.

Mungkin, Engkau jenuh setiap tingkah-laku dalam diriku, yang selalu berujung pertengkaran. Namun entah bagaimana itu semua terjadi, tapi kenapa tak sedikit pun penjelasan darimu tak terbuka? Aku terlalu memaksa atau gelisahkulah yang omong kosong? Tapi aku berharap semua tidak benar.

Sejauh ini, selalu saja aku berada dalam lingkaran kegelisaan, dan entah sampai dimana, kapan ini berakhir. Inginku untukmu Nat, saat engkau berada diatas pendirianmu, pilihlah mana yang lebih baik untuk kehidupan esok dan jangan berikan sebuah kebohongan kepada seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu.

Nat, fokuslah dulu terhadap kegiatan saat ini, aku hanya akan menunggu kabar tentang kebahagian dirimu. Aku juga berusaha menghapus dan melenyapkan semua rasa sakit yang menempel ditubuh ini.


Saturday, 21 June 2014

Para Jurnalis "Sampah"

Para jurnalis--yang bermarkas, berpayung dan dibesarkan oleh media yang sudah tua/mapan--dan sangat disegani pola kerja timnya, akhirnya "tersungkur" dan terjerembab ke lembah kenistaan. Kehilangan jatidiri "keindpendenan" karena menjelmah menjadi "budak pemodal". Mereka sudah tidak lagi berpegang pada kaidah-kaidah jurnalistik, sudah tidak lagi menghormati undang-undang, sudah tidak lagi berjalan pada kode etik jurnalistik. 



Para jurnalis "sampah" itu, telah menggoreskan tinta hitam pada wajah "persuratkabaran" di negeri ini. Mereka sudah melupakan fungsi mencerdaskan, fungsi edukasi dan hiburan (entertainer). Mereka telah menjelmahkan diri sebagai "predator", "pemangsa", dan menjadi "kanibal" yang menghalalkan apapun untuk mendapatkan sesuatu atau untuk mencapai satu tujuan yang menyesatkan.

Para jurnalis "sampah" itu, mata hatinya sudah menghitam dan langkahnya sudah kehilangan arah. Menebar fitnah dan informasi tidak benar.

Aneh rasanya, kalau para jurnalis "sampah" itu, tidak tersentuh hukum, tidak terjamah undang-undang pokok pers, dan tidak terperangkap kode etik jurnalistik.

Siapa mempermalukan siapa. Siapa harus menghormati siapa. Apakabar para jurnalis "alur lurus"?
 

Oleh:  ingot simangunsong 
Pematangsiantar, 18 Juni 2014

Thursday, 5 June 2014

Benarkah Begitu???

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) baik dari keturunan Tionghoa, itu menjadi sebuah keharusan dalam mengurus surat-menyurat keterangan catatan sipil.


Begitulah niat Johan Thaher dan Sutiono, WNI keturunan Tionghoa. Ketika hendak mengurus dan mendapatkan Akte Pernikahan dari Dinas Catatan Sipil Tanjung balai, Sumatera Utara.

Johan Thaher dan Sutiono mengurus Akte Pernikahan melalui Kepala Lingkungan V di Kantor Lurah  Karya Kota II, Tanjung Balai, Sumatera Utara. Disana mereka diterima oleh M. R selaku Kepala Lingkungan V di Kelurahan itu. Selanjutnya urusan yang diurus oleh M. R, itu diambil alih oleh M. Y. M. Y adalah mantan Kepala Lingkungan III dan juga sebagai Ayah dari M. R.

M. Y  lalu meminta biaya pengurusan untuk urusan N1, N2, N4, dan Kartu Keluarga sebesar Rp. 250.000,-. Namun, Johan Thaher dan Sutiono merasa keberatan dengan besarnya biaya pengurusan tersebut.

Sementara di Kantor Camat Tanjung Balai Selatan, Johan Thaher dan Sutiono harus mengeluarkan uang Rp. 100.000,-, untuk urasan Kartu Tanda Penduduk (KTP), karena alas mereka berdua adalah warga negara turunan.

Informasi dari masyarakat di lingkungan Kelurahan Karya Kota II, itu dalam setiap urusan surat-menyurat, kantor kelurahan tersebut sangat menguras kocek, apalagi warga negara turunan.

Sumber: Harian Reportase


Tuesday, 27 May 2014

Surat Untuk Nat

Apa yang aku pikirkan setelah melihatmu Nat? Ia, aku termenung dan berpikir untuk menguatkan aku mengatakan sudah menyukaimu saat itu Nat. 


Sudah lama, bahkan lama sekali, kita pertama bertatap wajah walau hanya sepintas aku melihat engkau dari jendela rumahmu, itupun terjadi karena seorang teman yang menjemput adek perempuannya pulang libur kuliah bersamaan denganmu dari Kota Medan.


Waktu itu juga aku berusaha menyampaikan salam perkenalan buatmu Nat, salam itu kutitipkan melalui temanmu, adeknya temanku itu. Dan bahkan salamku padamu pun kutitip juga ke temanku itu, karena aku tahu kalian berteman di Facebook. Namun, satu pun salam itu nggak kesampaian padamu Nat seperti yang kamu katakan.


Hari demi hari berganti-ganti, petemanan kita mulai dari pertemanan di facebook, tapi jangan bilang ia Nat kalau kita menjalin hubungan ini dari dunia maya. Chat kita mulai melalui berkirim pesan, kemudian aku meminta nomor telepon genggangmu dan engkau pun berbaik hati mengirimkannya.


Senang bisa mendapat kontak pribadimu, tapi kadang-kadang aku kesal samamu Nat, setiap aku menghubungimu selalu aja tak engkau angkat, kalau aku sms tak juah dibalas olehmu Nat, aku jadi mikir apa aku salah jika menelepon atau mengirim pesan samamu, nggak salah kan Nat?


Sabarlah aku Nat, menunggu kapan engkau menjawab telepon dariku, sampai lama berlalu begitu saja tak ada arah menentu, aku mulai lagi komunikasi, waktu itu kalau nggak lupa tepatnya Valentine Day, lagi-lagi tak juah terjawab.


Selanjutnya, kita sepakat untuk bertemu pada waktu pesta demokrasi dalam pemilihan wakil rakyat, lagi-lagi tak kesampaian. Padahal, aku sudah mengharapkan itu terjadi. Namun apa mau dikatakan, keinginan kita itu pun belum juah terpenuhi.


Tibalah waktu yang kita inginkan terjadi, pertemuan yang kedua, tapi serasa baru pertama kali berjumpa, dan itu terjadi di Ajibata.

Thursday, 20 March 2014

Ir. Mangindar Simbolon, M.M. Dalam Buku

"Sebagai pemimpin (bupati) yang mengembangkan model kepemimpinan responsif, Bupati Mangindar Simbolon terus-menerus bersikap sensitif terhadap lingkungannya, dan ini ditandai oleh kemampuannya untuk secara dini memahami dinamika perkembangan masyarakat Samosir, mengerti apa yang mereka butuhkan, dan ia mengusahakan agar menjadi pihak pertama yang memberi perhatian lebih terhadap kebutuhan itu. Dengan tingkat kepekaannya yang tinggi, maka Pemerintah Kabupaten Samosir di bawah kepemimpinan Bupati Mangindar Simbolon akan mampu tampil sebagai pihak yang menyelesaikan masalah (part of solution), bukan sumber masalah (source of problem). Komunikasi timbali balik dan transparan seringkali diberdayakan oleh Mangindar Simbolon agar kepemimpinannya terus terasah sensitivitasnya. Karena kemampuan  berkomunikasi dari Kepala Daerah yang disertai penerapan pola transparansi dalam proses pengambilan keputusan, merupakan prasyarat penting bagi keberhasilannya dalam mengemban tugas-tugasnya.

Karakter Kepala Daerah yang responsif adalah lebih banyak berperan menjawab aspirasi dan tuntutan masyarakat yang disalurkan melalui berbagai media komunikasi. Dengan kata lain, Mangindar Simbolon menghayati betul suatu sikap dasar untuk selalu mendengar aspirasi dan suara rakyat di daerahnya. Dia juga mau mengeluarkan energi dan menggunakan waktunya secara cepat untuk menjawab setiap pertanyaan, menampung setiap keluhan, memperhatikan setiap tuntutan dan memanfaatkan setiap dukungan masyarakat tentang suatu hal yang menyangkut kepentingan umum. Sigap dalam mengambil keputusan, sehingga dapat mencegah terjadinya berbagai ekses yang tidak diharapkan. Karakter kepemimpinan responsif hakikatnya adalah mewakili asas "pemerintahan oleh rakyat" (government by the people), karenanya dalam praktik ia menjadikan Pemerintah Daerah sebagai abdi rakyat dan pelayan rakyat. Dengan begitu, terjadi orientasi dari awalnya suka mengatur rakyat, menjadi suka melayani rakyat." Tulis buku "Pemimpin Responsif yang Berdedikasi" pada halaman 232 sampai halaman 234.


 
Sampul Buku "Pemimpin Responsif yang Berdedikasi"


Buku "Pemimpin Responsif yang Berdedikasi" dengan tebal 344 halam itu, diterbitkan oleh Indomedia (PT Indomedia Global) dengan tim editor Sarbinnor Karim (Koordinator), Ratih Siti Aminah, Budi Nugroho, Teguh Wiyono, M.S. Ari.

Wednesday, 12 March 2014

DPD RI? Jawabnya: 17. Parlindungan Purba, SH, MM

Parlindungan Purba, SH, MM. Sudah tak asing lagi kita dengar di telinga dan nama Beliau sering kita baca di berbagai media cetak dan media daring (dalam jaringan), pria kelahiran Medan, 22 Oktober 1963 itu adalah salah satu anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah Sumatera Utara untuk periode 2009-2014.

Parlindungan Purba, SH, MM


"Saya sangat setuju ruas jalan poros ini untuk ditingkatkan statusnya menjadi Jalan Provinsi, agar tingkat perekonomian masyarakat dapat meningkat dengan adanya infrastruktur jalan yang lebih baik dan berjanji akan memperjuangkannya di tingkat Provinsi dan pusat." Ujar Parlindungan Purba, SH, MM, saat melakukan kunjungan kerja sebagai anggota DPD RI ke Kabupaten Samosir.

Untuk mewujudkan aspirasi masyarakat yang sudah dijanjikan oleh Parlindungan Purba, SH, MM, terutama masyarakat Kabupaten Samosir, mari kita antar Parlindungan Purba, SH, MM melaluli lembaran surat suara DPD RI untuk melanjutkan kembali janji yang pernah dijanjikan.
 
Jadi, jika Anda sudah mengenal, pernah melihat, pernah mendengar nama Parlindungan Purba, SH, MM, agar untuk tidak lupa pada 9 April 2014 mendatang untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di desa masing-masing di Sumatera Utara. Mari kita tentukan pilihan kita pada surat suara untuk Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Sumatera Utara, Nomor urut 17: Parlindungan Purba, SH, MM.

Parlindungan Purba, SH, MM bersama beberapa wartawan di Kabupaten Samosir | Foto By Facebook/Hotdon Bernard Naibaho
 

Tuesday, 11 March 2014

Peringkat Teratas Elektabilitas Partai Islam

Elektabilitas tertinggi diantara partai-partai islam melalui hasil survei menempatkan Partai Amanat Nasional (PAN) sebesar 9,7 persen, lalu disusul Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di tempat kedua sebesar 9,2 persen, di tempat ketiga Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 6,4 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 4,7 persen dan Partai Bulan Bintang (PBB) 4,4 persen.




Hal itu terlihat dalam survei yang dilakukan Political Communication Institute (Polcomm Institute) yang dilakukan pada 15 Januari hingga 15 Februari 2014 dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara langsung di 29 Provinsi, tidak mencakup wilayah Papua, Papua Barat, NTT, Bali, dan Sulut.

Partai-partai berbasis Islam yakni PPP, PKB, PKS, PBB, dan PAN. Sementara partai berbasis Nasional yakni Parta Keadilan dan Persatuan (PKP-Indonesia), Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Hanura, dan Partai NasDem.

Sumber: kompas.com, Medan Pos [Senin, 24 Februari 2014]